SUARANUSRA.COM - Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian memimpin Rapat Koordinasi (Rakor) Pengendalian Inflasi Daerah guna membahas kondisi ekonomi dan strategi pengendalian harga menjelang Lebaran 2025.


Dalam rapat tersebut, Tito menyampaikan bahwa pemerintah telah mengadakan rapat khusus bersama Presiden Prabowo Subianto serta sidang paripurna dengan para menteri terkait kondisi ekonomi nasional.


Dalam sidang tersebut, Presiden menyoroti beberapa faktor yang memicu persepsi negatif masyarakat terhadap perekonomian, seperti penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). 


Mendagri menekankan pentingnya representasi analisis Menteri Keuangan terkait perekonomian, dan analisis Kemendagri terkait inflasi dan realisasi belanja untuk memperkuat pemahaman masyarakat akan kondisi perekonomian negara. 


Dua indikator ini dianggap penting untuk memastikan narasi yang konsisten dan akurat kepada masyarakat guna menghindari pemahaman yang salah.


Mendagri menjelaskan bahwa Indonesia masih menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang cukup baik di tingkat global. 


Saat ini, pertumbuhan tahunan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia menduduki peringkat ke-41 dari 185 negara. 


Di antara negara-negara G20, Indonesia berada di peringkat ke-3 dari 24 negara, sementara di ASEAN menempati posisi ke-5 dari 11 negara.


Sementara itu, tingkat inflasi Indonesia berada di peringkat ke-13 dari 186 negara, peringkat ke-2 di G20, dan peringkat ke-3 di ASEAN. 


Menurutnya, tren inflasi nasional secara year-on-year (y-on-y) yang tercatat sebesar -0,09% masih tergolong stabil dibandingkan dengan negara lain, meskipun terjadi kenaikan harga di beberapa sektor.



Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) RI, Amalia Adininggar Widyasanti, turut memaparkan perkembangan harga dan ketersediaan pasokan komoditas, khususnya menjelang Ramadhan 2025. 


Dia menyoroti kenaikan harga cabai rawit yang disebabkan oleh curah hujan tinggi dan serangan hama patek di beberapa daerah. Data BPS mencatat bahwa pada bulan Maret 2025 (M3), kenaikan harga terjadi di 228 kabupaten/kota, sedangkan penurunan terjadi di 63 kabupaten/kota. 


Selain itu, 30 provinsi mengalami kenaikan Indeks Perubahan Harga (IPH), sementara 8 provinsi mengalami penurunan IPH dibandingkan bulan sebelumnya. Komoditas utama yang menjadi andil kenaikan IPH adalah cabai rawit dan bawang merah.

Di Provinsi NTB tingkat inflasi tercatat sebesar -0,01%, dengan IPH mencapai 4,52%.


Sementara itu, Lombok Timur mencatat IPH sebesar 4,84%, menempati urutan ke-4 se-NTB dan peringkat ke-19 se-Indonesia.


Cabai rawit menjadi komoditas utama yang mempengaruhi inflasi di daerah ini dengan kontribusi sebesar 5,4548%, diikuti oleh cabai merah sebesar 0,0285%.


Mendagri menekankan bahwa setiap daerah harus memperhatikan kondisi inflasi di wilayahnya dan identifikasi komoditas yang mempengaruhi kenaikan harga. Ia meminta pemerintah daerah segera mengambil langkah-langkah terbaik untuk menekan angka inflasi agar tetap terkendali.


Sementara itu, hasil pemantauan strategi harga pangan oleh Kantor Staf Presiden menunjukkan bahwa menjelang Lebaran 2025, harga pangan relatif terkendali.


Beberapa komoditas utama seperti gula, tepung terigu, daging ayam ras, dan cabai merah besar dalam kondisi aman.

Untuk beras medium, secara mingguan harga tercatat meningkat di 6 provinsi, menurun di 10 provinsi, dan tetap stabil di 22 provinsi.


Namun harga bawang putih mengalami kenaikan di beberapa daerah.


Pemerintah terus berupaya menjaga stabilitas perekonomian dan mengendalikan inflasi dengan berbagai kebijakan, termasuk penguatan distribusi pangan serta sinergi antara pemerintah pusat dan daerah dalam pengawasan harga dan pasokan. (SN/01)